SERPIHAN TANGIS PENANTIAN
(Benny Can)
Malam
yang terlarut terus saja merajai dan aku hanya memandangi bintang-bintang dari
balik jendela hingga tak terhitung bintang yang terlewat. Tapi hinaan angin ingin
saja menghempaskan dan tegur dari sapa nyawa lain yang menggoda, karena enam
kali pagi berganti dan sampai detik ini tak ada tegur untuk sekedar menyapa. Jiwa
ini hanya merajut serpihan cemburu dari cinta yang tak tersapa, yang tak bisa
menghindar karena sepi menelusuk perih, begitulah yang terjadi hingga tak mampu
untuk sekedar beranjak meninggalkan tangis. Jiwa pun harus mendengar hujatan
kutipan jerit dari hati yang menuntut untuk ada sapa.
Lemah
itulah aku yang tak kuasa untuk sekedar mempersalahkan detik berputar melarutkan
dan semakin larut malam ini. Dalam sepi aku bertahan untuk mencoba teguh walaupun tangis tanpa bendung. Disini
hanyalah diary tempatku mengadu tentang hasutan menyeruak dari
nyawa yang mencoba meruntuhkan teguhku.
Nyawa
itu adalah Ande. Jemarinya
ingin menghapus tangis seperti dulu dia pernah di halalkan untuk menghapus
setiap tangisku. Tapi itu tanpa laku lagi kerena aku terikat janji cinta pada Rendi
yang ingin menegaskan lagi cintanya pada pagi ketujuh, seperti janjinya.
Tanpa sadar malam yang berlarut hingga tinggal sepertiga
malam menuju pagi. Menyucikan
diri dan menghadapNya dalam ibadah malam dan berserah dengan mengangkat kedua
tangan ini. “Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, ampunilah segala dosa-dosa dan
khilafku. Engkau Yang Maha Pemurah, limpahkanlah rizqi yang halal bagiku. Engkau
Maha Penyayang, limpahkanlah semua kasih sayang hingga aku termasuk dari
golongan orang-orang yang mendapat kasih sayangMu berupa surga kelak di
akhirat. Tuhanku, aku tahu Engkau menyayangi semua mahkluk di bumi ciptaanMu,
sayangilah Rendi dan jagalah raganya karena aku masih berfikiran positf tentang
keadaannya walaupun tanpa kabar. Pagi nanti adalah pagi ketujuh dari janjinya
dan izinkanlah kami bertemu dan menjadi sejarah terindah bagi kami yang saling
mencintai dan biarkanlah kami mejalani hari-hari indah dengan ridhoMu. Tuhanku
tempat meminta, kabulkanlah panjatan do’a hambamu ini. Amin.“
“Rani,
bangun uda pagi,” terdengar ketok pintu adalah ibu membangunkanku dan tersadar
bahwa aku tertidur di sajadah ini.
“Ya Bu,” jawaku.
“Cepetan keluar, ada tamu. Katanya ingin bertemu kamu,” kata
ibu.
Anggapanku yang datang adalah Rendi, karena ini adalah
pagi ketujuh untuk janjinya. Aku langsung keluar dan berlari ke depan pintu.
“Rendi,” kataku sambil membuka pintu. Aku terbengung sesaat karena yang datang
adalah Andre. “Kamu Dre, silahkan masuk.”
“Sudahlah diluar saja, di terasmu enak untuk lihat
pemandangan dan merasakan sejuknya udara pagi,” jawabnya.
Agukan kepala pertandakan mengikuti maunya, kitapun duduk
di teras. Tangis tak tertahan tanpa permisi dan seolah tak dapat dibohongi akan
keinginan kehadiran Rendi seperti janji yang selalu kunantikan.
“Rani, aku tahu kamu menangis. Aku merasa ibah, ingin
rasanya untuk menghapus air matamu dengan tanganku dan bahkan aku ingin halalmu
mengizinkan aku untuk menghiburmu sehingga tak aku temui lagi sedih yang
merusak paras cantikmu” kata Andre seraya merayu.
“Sudahlah Dre, aku tak apa. lihat aku sudah tersenyum,”
jawabku setelah menghapus air mata.
“Kamu seharusnya sadar, enam hari tanpa kabar dan pagi ini sudah berlarut ingin berganti siang
tapi tak tampak batang hidungnya. Apa yang masih kamu harapkan?. Rani, aku
masih mencintaimu seperti dulu dan bahkan lebih. Aku akan berusahan lebih baik dari Rendi,”
ungkapnya
“Cukup Dre. Cukup”
Bentakku. “Itu dulu. Sekarang sudah berbeda aku terikat janji dan keyakinan
Rendi akan menemuiku hari ini, lebih baik kamu pulang saja sebelum bertambah
masah,” kataku.
Aku terkejut melihat ambulan berhenti di depan pintu
gerbang. Terlihat seseorang dengan dipapah dua perawat menaiki kursi roda
dengan balutan perban dikepala dan lilitan selang infus di tangannya di dorong mendekatiku. “Rani ini aku. Aku datang
untuk mengatakan bahwa pagi ketujuh masih berlaku untukku.”
Tapa kata, airmata terlewat seolah menggambarkan rasa
senang berkecamuk dalam sedih melihat keadaannya, aku pun berlutut dihadapannya
dan memegang tangannya. “Rendi, apa yang terjadi denganmu,”
“Sudahlah jangan tanya kenapa tak penting bagimu, yang
terpenting aku sudah menepati janjiku. Aku
yakin, tanpaku kamu merasa bahagiakankan?. Dia pasti yang membahagiakanmu. Bagiku
cukup melihat semua ini, semoga kamu bisa bahagia dengannya,” katanya sambil
melihat Andre dan menunjukan rasa cemburu dengan apa yang ia lihat.
“Tapi.
Dia,” jawabku.
“Mas,
Aku hanya mengibur tangisnya agar dia
tersenyum,” kata Andre seolah menunjukkan simpatinya padaku.
“Andre,
aku mohon jangan ganggu aku lagi,”
kataku sambil menangis.
“Cukuplah
semua. Kedatanganku ke sini hanya ingin membuktikan janjiku. Tapi sudahlah, aku
harus pergi tak ingin mengganggu kalian,” kata Rendi sambil meminta pada
perawat untuk mendorong kursi rodanya menuju ambulan.
“Rendi,
maafkan aku,” kataku, tapi Rendi tak peduli. Memohonpun tak didengar seolah
tanpa pedulikan aku lagi dan hanya tangis yang terlihat dari raut sedihnya. Aku
pun mengejarnya dan mencoba untuk menjelaskan tentang apa yang terjadi
sebenarnya.
“Mbak,
dia kecelakaan mobil dengan keluarganya enam hari yang lalu, dia dan bapaknya
selamat sedangkan ibunya meninggal. Diapun baru sadar kemaren malam, dia nekat
untuk diantarkan menemuimu karena dia bilang tak ingin mengingkari janji dan
untuk cintanya,” kata perawat.
“Rendi,
dengarkan aku. Aku dan Andre hanya sebatas teman dan tak lebih dari itu. Dia
hanya menghiburku saat aku sedih karena tak ada kabar darimu,” kataku sambil memohon
kepada Rendi.
“Biarkan
aku yang menjelaskan semuanya,” kata ibu yang menghampiri Rendi. “Perlu kamu
ketahui, Rani masih setia kepadamu walaupun ada cowok yang menghasut dan
menggodanya termasuk Andre. Kalau kamu tak percaya baca diary ini.”
Dia
pun membacanya, membolak balik halaman demi halaman. “Rani, maafkan aku. Aku
telah salah menilaimu. Peluklah aku.”
Bahagiapun
menyeruak, ingin saja memeluk tapi aku masih melihat ibu. Anggukan kepala
mengisyaratkan ia dari ibu untukku memeluknya. “Maafkan aku juga. Tapi
berjanjilah untuk tak meninggalkan aku lagi.”
“Sudahlah,
tak pantas kau menangis. Bagiku kamu
adalah satu-satunya wanita yang
tak kan tergantikan. Aku akan pindah kerumah sakit terdekat di kota ini
agar kamu bisa menjagaku dan kita tetap terus bersama karena
aku ingin kita bahagia saat ini hingga masa depan kita nanti,” tegasnya menyakinkanku.
Aku
hanya ingin menulis diary, inilah
hari terindah tanpa kira dan banding bahkan tanpa umpama. Serpihan tangis yang
berlalu menjadi serpihan bahagia bersamanya.