Laman

Bahasa/Language

Rabu, 19 Maret 2014

SERPIHAN TANGIS PENANTIAN - Radar Madura (Jawa Pos), edisi:15 September 2013



SERPIHAN TANGIS PENANTIAN
(Benny Can)

Malam yang terlarut terus saja merajai dan aku hanya memandangi bintang-bintang dari balik jendela hingga tak terhitung bintang yang terlewat. Tapi hinaan angin ingin saja menghempaskan dan tegur dari sapa nyawa lain yang menggoda, karena enam kali pagi berganti dan sampai detik ini tak ada tegur untuk sekedar menyapa. Jiwa ini hanya merajut serpihan cemburu dari cinta yang tak tersapa, yang tak bisa menghindar karena sepi menelusuk perih, begitulah yang terjadi hingga tak mampu untuk sekedar beranjak meninggalkan tangis. Jiwa pun harus mendengar hujatan kutipan jerit dari hati yang menuntut untuk ada sapa.
Lemah itulah aku yang tak kuasa untuk sekedar mempersalahkan detik berputar melarutkan dan semakin larut malam ini. Dalam sepi aku bertahan untuk mencoba teguh walaupun tangis tanpa bendung. Disini hanyalah diary tempatku mengadu tentang hasutan menyeruak dari nyawa yang mencoba meruntuhkan teguhku.
Nyawa itu adalah Ande. Jemarinya ingin menghapus tangis seperti dulu dia pernah di halalkan untuk menghapus setiap tangisku. Tapi itu tanpa laku lagi kerena aku terikat janji cinta pada Rendi yang ingin menegaskan lagi cintanya pada pagi ketujuh, seperti janjinya.
Tanpa sadar malam yang berlarut hingga tinggal sepertiga malam menuju pagi. Menyucikan diri dan menghadapNya dalam ibadah malam dan berserah dengan mengangkat kedua tangan ini. “Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, ampunilah segala dosa-dosa dan khilafku. Engkau Yang Maha Pemurah, limpahkanlah rizqi yang halal bagiku. Engkau Maha Penyayang, limpahkanlah semua kasih sayang hingga aku termasuk dari golongan orang-orang yang mendapat kasih sayangMu berupa surga kelak di akhirat. Tuhanku, aku tahu Engkau menyayangi semua mahkluk di bumi ciptaanMu, sayangilah Rendi dan jagalah raganya karena aku masih berfikiran positf tentang keadaannya walaupun tanpa kabar. Pagi nanti adalah pagi ketujuh dari janjinya dan izinkanlah kami bertemu dan menjadi sejarah terindah bagi kami yang saling mencintai dan biarkanlah kami mejalani hari-hari indah dengan ridhoMu. Tuhanku tempat meminta, kabulkanlah panjatan do’a hambamu ini. Amin.“
“Rani, bangun uda pagi,” terdengar ketok pintu adalah ibu membangunkanku dan tersadar bahwa aku tertidur di sajadah ini.
“Ya Bu,” jawaku.
“Cepetan keluar, ada tamu. Katanya ingin bertemu kamu,” kata ibu.
Anggapanku yang datang adalah Rendi, karena ini adalah pagi ketujuh untuk janjinya. Aku langsung keluar dan berlari ke depan pintu. “Rendi,” kataku sambil membuka pintu. Aku terbengung sesaat karena yang datang adalah Andre. “Kamu Dre, silahkan masuk.”
“Sudahlah diluar saja, di terasmu enak untuk lihat pemandangan dan merasakan sejuknya udara pagi,” jawabnya.
Agukan kepala pertandakan mengikuti maunya, kitapun duduk di teras. Tangis tak tertahan tanpa permisi dan seolah tak dapat dibohongi akan keinginan kehadiran Rendi seperti janji yang selalu kunantikan.
“Rani, aku tahu kamu menangis. Aku merasa ibah, ingin rasanya untuk menghapus air matamu dengan tanganku dan bahkan aku ingin halalmu mengizinkan aku untuk menghiburmu sehingga tak aku temui lagi sedih yang merusak paras cantikmu” kata Andre seraya merayu.
“Sudahlah Dre, aku tak apa. lihat aku sudah tersenyum,” jawabku setelah menghapus air mata.
“Kamu seharusnya sadar, enam hari tanpa kabar dan pagi ini sudah berlarut ingin berganti siang tapi tak tampak batang hidungnya. Apa yang masih kamu harapkan?. Rani, aku masih mencintaimu seperti dulu dan bahkan lebih.  Aku akan berusahan lebih baik dari Rendi,” ungkapnya
 “Cukup Dre. Cukup” Bentakku. “Itu dulu. Sekarang sudah berbeda aku terikat janji dan keyakinan Rendi akan menemuiku hari ini, lebih baik kamu pulang saja sebelum bertambah masah,” kataku.

Aku terkejut melihat ambulan berhenti di depan pintu gerbang. Terlihat seseorang dengan dipapah dua perawat menaiki kursi roda dengan balutan perban dikepala dan lilitan selang infus di tangannya  di dorong mendekatiku. “Rani ini aku. Aku datang untuk mengatakan bahwa pagi ketujuh masih berlaku untukku.”
Tapa kata, airmata terlewat seolah menggambarkan rasa senang berkecamuk dalam sedih melihat keadaannya, aku pun berlutut dihadapannya dan memegang tangannya. “Rendi, apa yang terjadi denganmu,”
“Sudahlah jangan tanya kenapa tak penting bagimu, yang terpenting aku sudah menepati janjiku. Aku yakin, tanpaku kamu merasa bahagiakankan?. Dia pasti yang membahagiakanmu. Bagiku cukup melihat semua ini, semoga kamu bisa bahagia dengannya,” katanya sambil melihat Andre dan menunjukan rasa cemburu dengan apa yang ia lihat.
“Tapi. Dia,” jawabku.
“Mas, Aku  hanya mengibur tangisnya agar dia tersenyum,” kata Andre seolah menunjukkan simpatinya padaku.
“Andre, aku mohon jangan ganggu aku lagi,” kataku sambil menangis.
“Cukuplah semua. Kedatanganku ke sini hanya ingin membuktikan janjiku. Tapi sudahlah, aku harus pergi tak ingin mengganggu kalian,” kata Rendi sambil meminta pada perawat untuk mendorong kursi rodanya menuju ambulan.
“Rendi, maafkan aku,” kataku, tapi Rendi tak peduli. Memohonpun tak didengar seolah tanpa pedulikan aku lagi dan hanya tangis yang terlihat dari raut sedihnya. Aku pun mengejarnya dan mencoba untuk menjelaskan tentang apa yang terjadi sebenarnya.
“Mbak, dia kecelakaan mobil dengan keluarganya enam hari yang lalu, dia dan bapaknya selamat sedangkan ibunya meninggal. Diapun baru sadar kemaren malam, dia nekat untuk diantarkan menemuimu karena dia bilang tak ingin mengingkari janji dan untuk cintanya,” kata perawat.
“Rendi, dengarkan aku. Aku dan Andre hanya sebatas teman dan tak lebih dari itu. Dia hanya menghiburku saat aku sedih karena tak ada kabar darimu,” kataku sambil memohon kepada Rendi.
“Biarkan aku yang menjelaskan semuanya,” kata ibu yang menghampiri Rendi. “Perlu kamu ketahui, Rani masih setia kepadamu walaupun ada cowok yang menghasut dan menggodanya termasuk Andre. Kalau kamu tak percaya baca diary ini.”
Dia pun membacanya, membolak balik halaman demi halaman. “Rani, maafkan aku. Aku telah salah menilaimu. Peluklah aku.”
Bahagiapun menyeruak, ingin saja memeluk tapi aku masih melihat ibu. Anggukan kepala mengisyaratkan ia dari ibu untukku memeluknya. “Maafkan aku juga. Tapi berjanjilah untuk tak meninggalkan aku lagi.”
“Sudahlah, tak pantas kau menangis. Bagiku kamu adalah satu-satunya wanita yang tak kan tergantikan. Aku akan pindah kerumah sakit terdekat di kota ini agar kamu bisa menjagaku dan kita tetap terus bersama karena aku ingin kita bahagia saat ini hingga masa depan kita nanti,” tegasnya menyakinkanku.
Aku hanya ingin menulis diary, inilah hari terindah tanpa kira dan banding bahkan tanpa umpama. Serpihan tangis yang berlalu menjadi serpihan bahagia bersamanya.